Rabu, 25 Februari 2009

Arsitektur Tradisional Indonesia=Arsitektur Hijau/Green Architecture

Iklim tropis adalah iklim yang berada di antara 23,5 lintang utara dan 23,5 lintang selatan. Ciri dari iklim ini secara umum adalah mendapat sinar matahari sepanjang tahun. Tetapi secara khusus seperti di Indonesia, cirinya lebih banyak lagi. Seperti: curah hujan yang melimpah dan kadang disertai angin yang kencang, tanaman tumbuh subur karena kandungan tanah yang kaya akan unsur hara, lembab, dll.
Bangunan di iklim yang tropis sudah seharusnya selalu menyelesaikan masalah-masalah di iklim yang tropis. Dan hal ini sebenarnya sudah bisa kita lihat pada rumah-rumah tradisional di Indonesia. Misalnya atap miring untuk dapat segera membuang air hujan ke bawah. Teritisan untuk menghindari tampias air hujan yang disebabkan oleh angin. Ventilasi udara yang lebar untuk mengatasi kelembaban.
Mengapa saya menyebut "Arsitektur tradisional=Arsitektur Hijau/Green Architecture. Karena memang arsitektur tradisional di Indonesia selalu menggunakan prinsip-prinsip green architecture. Adapun prinsip-prinsip dalam green architecture adalah:
1. Conserving Energy
2. Respond to climate
3. Minimizing new resources (
menggunakan material yang dapat dipakai berulang-ulang,
agar tidak perlu memakai material baru lagi. )
4. Respect to user
(lebih menekankan pada kebutuhan pengguna)
5. Respect to site (seminimal mungkin melakukan perusakan atau perubahan pada lokasi
bangunan.)
6. Holistik/kesatuan (kelima prinsip digunakan secara bersamaan, tidak sendiri-sendiri)

rumah panjang Suku Dayak

Sekarang kita bandingkan prinsip tersebut dengan hal-hal yang terjadi di arsitektur tradisional Indonesia. Saya ambil contoh adalah Rumah Panjang masyarakat dayak.
Merespon iklim tropis sudah jelas mereka pikirkan pertama kali. Karena motivasi mereka dalam membuat adalah untuk keamanan/bertahan hidup. Dapat dilihat dari bentuk atap , bukaan serta bentuk rumah panggungnya.
Mereka mengambil material yang ada di sekitar mereka dan menggunakan bahan yang paling awet dan paling mudah dijadikan sebuah rumah, yaitu kayu. Mereka menggunakannya sesuai kebutuhan mereka saja. Dan memakainya lagi jika masih bagus.
Rumah Panjang dihuni oleh beberapa keluarga, biasanya adalah sebagai satu koloni. Hal tersebut sungguh sangat menghemat tempat. Bandingkan bila satu keluarga memiliki satu rumah.!!! Pasti akan lebih banyak lagi lahan yang terpakai.
Bila dipikir-pikir mereka juga sangat konservatif terhadap energi. Khususnya energi yang tidak dapat diperbaharui. Tetepi itu karena mereka memang belum mengenal energi itu.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa judul di atas memang benar. Dan terbukti bahwa secara tidak sadar mereka telah menggunakan konsep green architecture. Tapi yang jadi masalah adalah bagaimana kita menerapkan konsep tersebut di peradaban sekarang dengan motivasi dalam berarsitektur dan kebutuhan yang sudah kompleks dan. Hanya kita sendiri yang bisa menjawab.Karna kita sendiri yang tahu perbandingan kebutuhan dan keinginan kita. Perlu diingat dan diresapi kata-kata .."seberapa cukup adalah cukup" Adi Purnomo. Semoga bermanfaat..